{"id":794,"date":"2025-11-30T03:17:51","date_gmt":"2025-11-30T03:17:51","guid":{"rendered":"https:\/\/raretheatre.org\/?p=794"},"modified":"2025-11-30T03:17:51","modified_gmt":"2025-11-30T03:17:51","slug":"teater-tradisional-indonesia-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/raretheatre.org\/?p=794","title":{"rendered":"Teater Tradisional Indonesia"},"content":{"rendered":"<h3 data-start=\"8209\" data-end=\"8255\">Teater Tradisional Indonesia<\/h3>\n<p data-start=\"8256\" data-end=\"9283\">Teater tradisional Indonesia, seperti wayang orang, ketoprak, dan lenong, memiliki gedung khas yang sederhana namun efektif. Panggung biasanya berbentuk panggung datar atau terbuka, menghadap penonton yang duduk di kursi atau lantai. Atap gedung terbuat dari kayu dan ijuk untuk menahan panas dan hujan, sementara dekorasi mencerminkan budaya lokal. Akustik diperkuat melalui posisi panggung dan tribune penonton, memaksimalkan suara aktor atau gamelan. Gedung juga memiliki ruang belakang panggung untuk persiapan kostum dan properti. Lobby jarang ditemukan, namun area tunggu atau alun-alun di depan gedung berfungsi sebagai tempat berkumpul masyarakat. Teater tradisional Indonesia menekankan interaksi penonton dan aktor, serta improvisasi cerita sesuai kondisi setempat. Desain sederhana namun fungsional membuat pertunjukan mudah diakses oleh masyarakat luas. Gedung teater tradisional tetap relevan sebagai pusat budaya, pendidikan, dan hiburan lokal, menggabungkan seni pertunjukan dengan nilai tradisi dan komunitas.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teater Tradisional Indonesia Teater tradisional Indonesia, seperti wayang orang, ketoprak, dan lenong, memiliki gedung khas yang sederhana namun efektif. Panggung biasanya berbentuk panggung datar atau terbuka, menghadap penonton yang duduk di kursi atau lantai. Atap gedung terbuat dari kayu dan ijuk untuk menahan panas dan hujan, sementara dekorasi mencerminkan budaya lokal. Akustik diperkuat melalui posisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-794","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/raretheatre.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/794","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/raretheatre.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/raretheatre.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/raretheatre.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/raretheatre.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=794"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/raretheatre.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/794\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":795,"href":"https:\/\/raretheatre.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/794\/revisions\/795"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/raretheatre.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=794"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/raretheatre.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=794"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/raretheatre.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=794"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}