Sejarah Teater Klasik
Teater klasik memiliki akar yang dalam dalam sejarah budaya manusia, muncul pertama kali di Yunani kuno sebagai bagian dari ritual keagamaan dan festival Dionysia. Drama Yunani terbagi menjadi tragedi dan komedi, masing-masing memainkan peran penting dalam membentuk estetika dan moral masyarakat. Tragedi menekankan dilema manusia dan pertentangan dengan takdir, sementara komedi memberikan komentar sosial melalui humor dan satir. Teater Romawi kemudian mengadaptasi bentuk Yunani dengan perubahan gaya dan pendekatan, menambahkan elemen hiburan yang lebih luas seperti pertunjukan gladiator dan pantomim. Dalam abad pertengahan, teater berpindah ke gereja sebagai bagian dari drama liturgi, kemudian berkembang menjadi misteri dan miracle plays yang menceritakan kisah-kisah Alkitab secara dramatik. Renaissance membawa kebangkitan teater klasik dengan penekanan pada humanisme, ekspresi individual, dan penggunaan bahasa yang indah. Shakespeare di Inggris dan Molière di Prancis menjadi ikon yang menggabungkan tradisi klasik dan inovasi modern. Teater klasik memberikan fondasi penting bagi perkembangan teater modern dan eksperimental, mempengaruhi teknik, struktur naratif, dan pemahaman karakter. Dari Yunani hingga abad ke-17, teater klasik bukan hanya hiburan tetapi juga sarana pendidikan, refleksi sosial, dan penggambaran nilai-nilai universal yang tetap relevan hingga kini, menjadikannya salah satu pilar budaya yang terus mempengaruhi seni pertunjukan di seluruh dunia.